RENUNGAN KRISTEN TENTANG KEMATIAN
Ada
5 poin yang mau saya sampaikan dalam Alkitab mengenai kematian:
Pertama,
mati jasmani, ini bukan hal asing dalam hidup manusia. Kenyataannya setiap hari
pasti ada orang mati. Coba lihat di Adi Jasa, pernahkah satu hari kosong sama
sekali? Bahkan di seluruh dunia mungkin setiap detik ada orang mati. Jadi mati
adalah sesuatu yang umum dan tidak asing. Tidak ada yang aneh tentang kematian.
Kalau kita jarang mendengar kematian mungkin karena anggota keluarga kita tidak
ada yang mati, tetapi ini terus terjadi di masyarakat. Ini menjadi penghiburan
bahwa jika kita mati nanti kita tidak sendirian karena ada orang lain yang juga
mati di tempat lain. Apalagi dalam Kristus, kita tidak perlu takut karena Tuhan
Yesus sendiri yang akan menyambut kita.
Tetapi
ini juga menjadi peringatan bagi kita: kita tidak hidup selama-lamanya di dalam
dunia. Kematian bisa menjangkau setiap orang tanpa pandang usia meskipun masih
muda sekalipun. Ada teman SMP saya yang mati mendadak karena tenggelam waktu di
Bali. Bayi dalam kandungan, bayi yang lahir, atau anak berusia 5 tahun juga
bisa mati. Semua umur orang bisa mati. Maka selagi ada hidup pergunakan hidup
kita untuk melaksanakan apa yang Tuhan mau. Tuhan bukan menciptakan hidup kita
dengan sia-sia lalu kita tidak perlu bertanggung jawab. Seperti pembuat
handphone menciptakan handphone ada tujuannya, demikian juga kita yang
diciptakan Tuhan ada tujuannya.
Kematian
jasmani adalah proses alami yang sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci sejak
manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:19). Dari debu kembali kepada debu. Ada
orang yang bercanda atau menyindir orang yang sudah tua: sudah bau tanah.
Tanda-tandanya: rambut sudah mulai putih, lalu mulai banyak penyakit: ginjal,
jantung, paru-paru, dll. Tubuh semakin lemah. Dulu waktu muda kuat angkat
barbel berapa kilo, tetapi jika sudah tua pertanyaannya: berapa gulamu, asam
uratmu, tekanan darahmu? Mata saya yang pernah dioperasi sampai sekarang masih
kacau. Mata kiri lihat jauh, mata kanan lihat dekat. Dulu saya ngomel kepada
Tuhan mengapa begini? Tetapi saya diingatkan bahwa mata, ginjal jantung dan
sebagainya diberikan oleh Tuhan dan kita tidak pernah berterima kasih sampai
itu semua diambil. Tuhan yang memberi, jika Ia mau mengambilnya itu hak Tuhan.
Manusia yang makin tua pelan-pelan menyerahkan semuanya.
Kalau
bisa memilih kita mau mati usia berapa? Makin panjang usia kita makin tersiksa.
Itulah keadaan yang harus kita hadapi dalam hidup. Organ tubuh semua harus siap
direlakan: dari debu kembali kepada debu. Akan tetapi orang yang percaya kepada
Allah akan hidup bersama Bapa di dalam surga dalam kebahagiaan kekal.
Kedua,
mati rohani. Alkitab menyebutkan istilah ini sebagai mati karena dosa atau mati
dalam dosa atau dalam keberdosaan (Ef.2:1). Mati rohani bukan mati jasmani,
sudah terjadi sejak jaman Adam dan Hawa (lihat peringatan Tuhan Kej.2:17).
Perhatikan kata “pada hari engkau memakannya” padahal waktu makan buah itu Adam
dan Hawa tidak langsung mati, yang terjadi adalah kematian hubungan manusia
pertama dengan Allah. Hubungan itu tidak lagi harmonis. Mereka ketakutan. Orang
semacam ini tidak bisa lagi melihat kebenaran yang datang dari Allah, mereka
menolak dan tidak sanggup menerimanya. Dia buta rohani tidak merasa butuh Yesus
Tuhan dan Juruselamat, merasa pecaya diri bisa hidup benar, bahkan tidak merasa
diri berdosa. Orang semacam ini tetap tidak akan percaya meskipun diberitahukan
soal Tuhan dan Juruselamat. Kalau bukan Tuhan yang mencelikkan mata rohani ia
akan tetap buta. Ini putus hubungan dengan Tuhan. Ini dialami semua orang yang
adalah keturunan Adam dan Hawa (Rm.5:15). Oleh karena itu doktrin iman Kristen
jelas mengajarkan bahwa kita sejak dari dalam kandungan sudah berdosa di
hadapan Tuhan. Kita bukan berbuat dosa baru jadi orang berdosa tetapi
sebaliknya karena kita orang berdosa maka kita berbuat dosa.
Meskipun
kita tidak ikut-ikut dosa Adam dalam hidup sehari-haripun kita sudah berbuat
dosa. Dosa bukan hanya bertindak negatif secara aktif, misal membunuh, mencuri
dan berzinah. Kalau dosa hanya tindakan aktif, maka mereka yang tidak melakukan
hal-hal tersebut akan merasa tidak pernah berdosa. Selain tindakan aktif, Tuhan
Yesus mengatakan orang juga bisa berzinah dalam pikirannya (Mat. 5). Tapi lebih
daripada itu dosa adalah tidak mampu memenuhi target yang Tuhan sudah berikan:
misalnya saya harus rajin baca Alkitab tetapi saya malas maka saya sudah
berdosa. Nyatanya ada orang yang nakal yang tanya pada gurunya apakah orang
tidur itu dosa tidak? Perampok pun kalau tidur nggak berdosa. Tapi orang yang
tidur pada jam kerja dosa tidak? Maka bisa tidak dalam satu tahun kita tidak berdosa?
Tidak mungkin. Juga tidak mungkin dalam 1 bulan maupun 1 minggu bahkan dalam 1
hari sekalipun. Bahkan dalam 1 detik sekalipun.
Pengajaran
Reformed klasik membuat saya mengerti bahwa saya tidak pernah dapat memenuhi
target Allah secara sempurna tanpa cacat sama sekali. Kalau ada orang yang
sharing bahwa sejak ia terima Tuhan Yesus ia tidak pernah ada kesombongan lagi,
itulah kesombongannya. Apalagi kalau merasa diri cukup taat bahkan tidak ada
dosa lagi. Kita semua orang berdosa. Orang yang di luar Kristus mati karena
dosa, juga mereka yang masih di dalam kandungan.
Ketiga,
kalau orang yang mati rohani ini tetap tidak mau menerima Kristus sebagai Tuhan
dan Juruselamatnya maka ia akan mengalami kematian ketiga: kematian kekal.
Orang yang mati rohani masih bisa dihidupkan kalau ia menerima anugerah
keselamatan, kalau tidak ia menerima hukuman kekal: mati kekal. Ini adalah
perpisahan selama-lamanya dalam Allah yang sama sekali dihukum. Tentang hal ini
John Stott memiliki pikiran yang agak aneh: kalau Allah itu penuh kasih tegakah
Ia di surga menyiksa orang di neraka yang histeris berteriak sepanjang masa?
Maka ia buat teori bahwa suatu saat neraka akan habis musnah sama sekali. Ini
teori orang yang berlebihan menekankan kasih Allah.
Alkitab
mengatakan bahwa Allah bukan hanya kasih tetapi juga adil yang akan menegakkan
hukumannya, siksaan yang terus-menerus dalam kekekalan (lih. Yoh.3:18, orang
yang tidak menerima Yesus dengan sendirinya berada dalam hukuman).
Keempat,
ini berita sukacita: mati terhadap dosa atau mati bagi dosa. Ini bukan mati
karena dosa. Maksud Alkitab adalah saya sudah dibebaskan dari hukum dosa. Saya
tidak lagi di bawah kutukan dosa atau bebas dari perbudakan dosa (lih. Rm.6:2,
keselamatan itu anugerah Allah dan kita adalah orang yang sudah mati bagi dosa
maka tidak dapat lagi hidup sembarangan berdosa). Orang yang sudah bebas tidak
mungkin lagi menikmati dosanya dan membenarkan diri dalam dosanya (Rm. 6:20-22,
ada dua status: sebagai budak dosa, 20-21, buahnya adalah kematian; status
kedua: merdeka dari dosa atau mati terhadap dosa, buahnya adalah menjadi hamba
Allah, pengudusan, dan hidup yang kekal). Tadinya hidup kita bertentangan,
tidak ada kaitan, bahkan tidak ada unsur kebenaran sama sekali. Hasilnya adalah
kematian. Tetapi sekarang kita dimerdekakan dari dosa, dikuduskan dan beroleh
hidup kekal. Dari diperbudak dosa jadi dimerdekakan dari dosa. Orang yang
dicelikkan mata rohaninya oleh Tuhan akan mengatakan bahwa inilah kebenaran
yang selama ini ia cari-cari dalam hidupnya (Ef.2:1, 4, 5).
Kelima,
Kol.3:3 menyatakan tentang kematian terhadap dosa. Tetapi dalam 3:5 ada hal
yang unik, jika kita sudah mati terhadap dosa mengapa masih disuruh mematikan
dalam diri kita semua yang duniawi? Ini karena ada dua status: secara de jure,
status hukum kita sudah dibebaskan dari kutuk dan hukuman dosa, tapi secara de
facto atau kenyataannya saudara dan saya masih orang berdosa. Orang yang di
dalam Kristus memang sudah dibebaskan. Tapi kenyataannya kita masih egois, ada
keakuan, ada dosa yang belum dibereskan dan yang harus dimatikan. Ini proses
seumur hidup orang percaya, mematikan kedagingan.
Di
sinilah Iblis bermain: ia membalikkan segalanya. Kita dianggap orang hebat,
segala keinginan kita akan tercapai asal kita minta kepada Tuhan. Ini ajaran
setan. Alkitab mengajarkan justru keakuan kita harus dihancurkan dan kita harus
tunduk kepada Allah bukannya ngotot berdoa supaya Tuhan menuruti kita. Maka
Teologi sukses adalah ajaran dari setan dan bukan dari Alkitab. Bukan kita jadi
hamba tetapi jadi bos. Karena itu matikanlah hal itu dalam diri kita. Hal itu
tidak pernah selesai dalam hidup kita. kalau kita mengaku hal ini sudah selesai
maka hal itu pasti kepalsuan, kemunafikan dan kebohongan. Tapi juga jangan juga
ekstrim sebaliknya: dosa disuburkan, keakuan dan kedagingan juga. Ini
dua-duanya tipuan Iblis.
Kol.3:10
mengatakan bahwa kita telah diberikan manusia baru. Tapi manusia baru ini belum
sempurna melainkan terus-menerus diperbaharui. Yang lama terus-menerus
dimatikan sedangkan yang manusia baru terus-menerus diperbaharui. Mata rohani
kita sudah dicelikkan, sudah kenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tapi
kita tidak bisa mengatakan saya sudah kenal, ya sudah. Pengenalan ini harus
semakin ditingkatkan. Kita harus semakin mengenal Firman, jadi orang Kristen
tidak mungkin berhenti belajar, tapi terus bertumbuh. Ini ciri orang yang sudah
mati terhadap dosa. Akhirnya hidup kita boleh dipersembahkan bagi kemuliaan
Allah. Karena itu bersyukurlah kalau kita boleh diproses dalam kematian semacam
ini.
Kapanpun kita
mati bersyukurlah. Selama masih hidup, masih ada kesempatan. Mari kita gunakan
untuk sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kita semua sedang “antri”
menuju kematian