Easyworship VS Powerpoint untuk Dukung Ibadah Gereja
Meski ada banyak manfaatnya, namun ada juga mudharatnya. Pemasangan layar putih yang sembarangan, tanpa memperhatikan estetika kadang merusak arsitektur interior gereja. Pada gereja-gereja lama, perancang gedung gereja tidak mengantisipasi pemakaian layar untuk proyeksi LCD ini. Akibatnya ketika layar "dipaksakan" ditanam di bagian gereja, ada "harga" yang harus dibayar, yaitu keindahan arsitektur gereja.
Dampak buruk yang lain berkaitan dengan "periuk" nasi penerbit buku nyanyian jemaat. Karena suair lagu sudah disorotkan ke layar, maka buku-buku nyanyian jemaat tertumpuk berdebu di lemari gereja. Jemaat juga sudah tidak membawa buku nyanyian lagi kecuali jemaat yang memiliki gangguan penglihatan. Dampak ini tentu saja mempengaruhi pendapatan penerbit buku nyanyian seperti YAMUGER, Yayasan Musik Gerejawi. Angka penjualannya melorot drastis.
Tapi apa hendak dikata. Itulah perubahan zaman. Jika mereka tidak ikut berubah haluan, maka mereka akan dilindas deru perubahan zaman. Yamuger dan lembaga sejenis seharusnya segera masuk ke dunia pelayanan digital. Misalnya menciptakan software penayang syair-syair lagu, lemgkap dengan teks dan background yang pas.
Saat ini, program penampil syair yang paling umum digunakan di gereja adalah Powerpoint dan Easyworship. Program Powerpoint paling mudah didapatkan karena sudah dibundel dalam Microsoft Office. Namun ada kekurangan Powerpoint untuk pemakaian di gereja. Pembuatan untuk materi presentasi Powerpoint harus dikerjakan satu-persatu. Misalnya dalam sebuah ibadah akan dinyanyikan 5 lagu, maka pembuat materi harus membuat 5 halaman syair lagu. Ibadah Minggu depan, dia harus membuat meteri presentasi yang baru lagi. Kelemahan yang lain adalah pada in-fleksibilitas urutan lagu. Maksudnya begini: Dalam ibadah-ibadah non liturgis seperti KKR atau persekutuan pemuda, pemimpin pujian kadang beromprovisasi dalam menentukan urutan lagu. Misalnya, menurut materi yang sudah dibuat, setelah bait kedua diteruskan ke bait ketiga. Tapi tiba-tiba pemimpun pujian ingin kembali ke bait pertama, Hal ini akan menyulitkan operator komputer, apalagi lalu pemimpin pujian itu lalu melompat ke bait ketiga.
Kelemahan Powerpoint itu menjadi kekuatan Easyworship. Program penampil ini menggunakan sistem database yang menyimpan syair-syair lagu. Dengan demikian, syair lagu tersebut langsung dapat dicari dan ditampilkan dalam hitungan detik. Misalnya, jika tiba-tiba ada penambahan lagu baru pada ibadah, maka sepanjang syair lagu itu sudah masuk ke dalam database, maka syairnya dapat ditampilkan denga cepat.
Hal ini mustahil dilakukan dengan powerpoint. Jika ada penambahan lagu baru, maka operator harus mengetikkan syair pada halaman baru atau search file powerpoint lain yang ada syair lagu itu, baru kemudian disalin-rekat (copy-paste). Kekurangan easyworship adalah pada in-fleksibilitas desain. Dengan easyworhip kita tidak bisa leluasa menyisipkan animasi, mengatur timing, menambahkan efek suara, membuat tulisan berkedip-kedip. Penyetelan monitor untuk easyworhip juga lebih ribet. Easyworship menggunakan sistem dua moitor. Monitor I sebagai "meja kontrol" (yaitu yang ada di depan operator komputer) dan Monitor II sebagai penampil akhir (yaitu proyektor LCD). Dengan pengaturan ini, maka jika komputer dan proyektor itu menggunakan progran lain, maka tampilan di layar komputer tidak otomatis tertayang di layar. Untuk itu, komputer harus disetting dengan mode monitor kembar (clone monitor), seperti pengaturan default.
Mau pilih mana? Itu tergantung situasi dan kebutuhan gereja Anda.
Semoga bermanfaat
Gembala Agung